Thursday, August 13, 2015

Setelah sukses didunia pendidikan pastinya orang akan terjun ke dunia kerja. Sangat jarang sekali memutuskan untuk terjun kedunia bisnis, karena pada umumnya ini mencengangkan, mengagetkan semua orang  terutama keluarga. Bagaimana tidak anak yang berprestasi semenjak SD hingga kuliah bisa bekerja enak, gaji besar, memilih untuk berbisnis yang penuh resiko dan ketidakpastian. Tapi sebetulnya mereka hanyalah keluarga yang tidak merasakan apa yang dirasakan dan dipikirkan. Meskipun sukses dalam karir, berganti-ganti posisi dan perusahaan, hal itu  hanya memberikan rasa aman dan tidak memberikan apa yang diharapkan, yaitu menjadi milyarder kaya raya. Ketika melihat fakta dan memulai berfikir bahwa banyak orang kaya disekililing rumah, mereka tidak memperoleh kekayaan dengan pendidikan mereka, dengan ijazah mereka maka hal pendidikan bukanlah hal yang patut dibanggakan. Memperoleh pendidikan yang baik dan ranking baik tidak lagi menjadi faktor penentu kesuksesan, karena apa? Karena zaman sudah berubah. Ini bukanlah zaman agraris yang mana orang kaya adalah orang yang punya ladang yang luas, punya kuda atau sapi yang banyak. Sekarang ini bukan zaman industri yang mana orang kaya adalah orang yang punya pabrik, orang yang punya tambang dimana orang yang pintar IQ tinggi dihargai di perusahaan. Menurut Robert Kiyosaki, seorang Milyarder dunia, salah satu alasan mengapa orang kaya semakin kaya, sementar orang miskin tetap miskin adalah karena masalah uang hanya diajarkan dirumah dan tidak diajarkan disekolah. Sementara dirumah orang tua kita terkadang bukanlah orang ahli atau memiliki kecerdasan finansial. Orang yang berhasil mengenyam pendidikan tinggi sekalipun apabila tidak memiliki sikap mental dan program finansial ia tidak akan sukses dan kaya raya. Gelar akademik hanya akan menjadi beban mental baginya, dan orang –orang disekitarnya akan memberi image negatif tentang pendidikan, tentang sarjana, “ah buat apa sekolah, sarjana aja banyak yang menganggur”.

Sebenarnya tidak salah dengan pendidikan, yang salah adalah sistemnya, sekolah hanya fokus pada keterampilan profesi dan tidak mengajarkan keterampilan finansial. Kreatifitas tentang uang, sumber dan pengelolaannya lumpuh bahkan mati karena tak pernah disentuh apalagi diasah. Padahal semakin kuat otak kita berfikir tentang uang, maka uang akan semakin banyak dihasilkan. Pemikiran yang banyak kita temukan di masyarakat adalah mereka harus menyekolahkan anaknya hingga universitas kemudian setelah lulus mencari dan mendapatkan pekerjaan yang baik, menikah dan membeli rumah. Mereka menginginkan hidup yang aman, bukan hidup yang nyaman. Mereka hidup dalam kecukupan bukan keberlimpahan. Sehingga rasa takut lebih mendorong mereka untuk bekerja daripada panggilan hati untuk bekerja. Tidak ada passion, tidak ada rasa cinta pada pekerjaan. Fokus mereka adalah merasa aman, aman dari tagihan, cicilan KPR, Cicilan mobil, menutupi tagihan listrik, air dan uang sekolah anak. Tidak ada perencanaan pensiun dan hari tua, tidak ada rencana libur atau rekreasi, tidak berfikir tentang jaminan hidup masa depan, kalaupun ada itu adalah yang mereka terima dari program perusahaan tempat mereka bekerja. Bahkan yang mengkhawatirkan tidak ada pengeluaran untuk pengembangan diri padahal ilmu pengetahuan dan teknologi berubah begitu cepat, apabila tidak ada ilmu baru yang diserap, mereka bisa ditelan jaman. Lihatlah fakta dalam universitas kehidupan atau dunia nyata tak selalu sejalan dengan harapan. Dunia ini tidak berjalan statis, ia berjalan dinamis. Suasana dapat berubah dengan cepat dan penuh ketidakpastian. Keadaan politik negara yang kacau, krisis ekonomi, PHK besar-besaran itu adalah hal yang harus disikapi dan dihadapi oleh mental dan kecerdasan finansial, karena kalau tidak akan menjadi beban pemikiran yang berat, frustasi ekonomi. Sebagian orang juga merasa bangga dan nyaman bekerja sebagai pegawai negeri sipil, meskipun gajinya sebatas cukup, mereka tetap senang karena mendapat beberapa tunjangan dari pemerintah. Terkadang tunjangan menjadi hal yang penting daripada pekerjaan mereka sendiri. Apabila kita menyaksikan para lulusan perguruan tinggi setelah wisuda, mereka lebih sibuk membuat resume atau curiculum vitae yang mengesankan daripada membuat rancangan bisnis yang bisa membuat lapangan kerja baru. Mereka menganggap kelulusan adalah proses akhir, padahal sebenarnya adalah awal mula untuk belajar. Inilah pola pikir yang ada disekitar kita, pola pikir yang terbentuk dari rumah dan dari sekolah yang menghabiskan waktu belasan tahun, waktu yang hampir separuh usia hidup. Inilah pola pikir yang membedakan orang miskin dan orang kaya dimana orang miskin bekerja mencari uang, sementara orang kaya menjadikan uang bekerja untuk mereka. 


Orang miskin bekerja keras mencari uang, mereka bahkan lembur, mengorbankan liburan, anak dan keluarganya dirumah. Ini adalah cermin jiwa miskin, lemah, penakut, dapat dibeli dan bahkan tamak. Mengapa disebut penakut? Ya, karena sebagian besar dari mereka takut tak mendapat gaji, atau gajinya dipotong bila tak mengikuti aturan. Lalu mengapa mereka disebut tamak? Ya, karena mereka bekerja dan berharap bisa membeli ini itu, barang-barang konsumtif yang kelak menjadi rongsokan. Mereka berfikir bahwa dengan membeli barang yang menyenangkan hati, mereka akan bahagia. Mereka berfikir dapat membeli kesenangan dan kebahagiaan dengan uang, padahal kesenangan dan kebahagiaan tidak selalu harus dibeli. Mereka jarang berfikir dan bertanya pada diri sendiri “ Apakah dengan bekerja lebih keras akan menjadi solusi masalah keuangan? Pekerjaan hanyalah solusi jangka pendek untuk masalah jangka panjang (masalah financial). Berbeda dengan orang kaya, orang kaya menganggap uang adalah ilusi, uang adalah ide, itulah sebabnya orang kaya dapat melihat apa yang tidak dilihat oleh orang lain. Orang kaya terus berimajinasi dan menciptakan peluang-peluang bisnis yang produktif bahkan ketika mereka tidak hadir secara fisik, bisnis mereka tetap berjalan dan menghasilkan uang. Dan yang terpenting orang kaya terbebas dari rasa takut dan tamak. Mereka lebih mengedepankan proses berfikir menghasilkan uang daripada mengikuti emosi mereka terhadap uang. 

0 comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Translate

Buat Website Anda Sekarang

Hosting Indonesia

New Product

Hubungi Admin

Hubungi Admin

Blog Archive

Total Pageviews

Popular Posts

Banner1