Setelah
sukses didunia pendidikan pastinya orang akan terjun ke dunia kerja. Sangat jarang
sekali memutuskan untuk terjun kedunia bisnis, karena pada umumnya ini
mencengangkan, mengagetkan semua orang
terutama keluarga. Bagaimana tidak anak yang berprestasi semenjak SD hingga
kuliah bisa bekerja enak, gaji besar, memilih untuk berbisnis yang penuh resiko
dan ketidakpastian. Tapi sebetulnya mereka hanyalah keluarga yang tidak
merasakan apa yang dirasakan dan dipikirkan. Meskipun sukses dalam karir,
berganti-ganti posisi dan perusahaan, hal itu
hanya memberikan rasa aman dan tidak memberikan apa yang diharapkan,
yaitu menjadi milyarder kaya raya. Ketika melihat fakta dan memulai berfikir
bahwa banyak orang kaya disekililing rumah, mereka tidak memperoleh kekayaan
dengan pendidikan mereka, dengan ijazah mereka maka hal pendidikan bukanlah hal
yang patut dibanggakan. Memperoleh pendidikan yang baik dan ranking baik tidak
lagi menjadi faktor penentu kesuksesan, karena apa? Karena zaman sudah berubah.
Ini bukanlah zaman agraris yang mana orang kaya adalah orang yang punya ladang
yang luas, punya kuda atau sapi yang banyak. Sekarang ini bukan zaman industri
yang mana orang kaya adalah orang yang punya pabrik, orang yang punya tambang
dimana orang yang pintar IQ tinggi dihargai di perusahaan. Menurut Robert
Kiyosaki, seorang Milyarder dunia, salah satu alasan mengapa orang kaya semakin kaya, sementar orang
miskin tetap miskin adalah karena masalah uang hanya diajarkan dirumah dan
tidak diajarkan disekolah. Sementara dirumah orang tua kita terkadang bukanlah
orang ahli atau memiliki kecerdasan finansial. Orang yang berhasil mengenyam
pendidikan tinggi sekalipun apabila tidak memiliki sikap mental dan program
finansial ia tidak akan sukses dan kaya raya. Gelar akademik hanya akan menjadi
beban mental baginya, dan orang –orang disekitarnya akan memberi image negatif
tentang pendidikan, tentang sarjana, “ah buat apa sekolah, sarjana aja banyak
yang menganggur”.
Sebenarnya
tidak salah dengan pendidikan, yang salah adalah sistemnya, sekolah hanya fokus
pada keterampilan profesi dan tidak mengajarkan keterampilan finansial.
Kreatifitas tentang uang, sumber dan pengelolaannya lumpuh bahkan mati karena
tak pernah disentuh apalagi diasah. Padahal semakin kuat otak kita berfikir
tentang uang, maka uang akan semakin banyak dihasilkan. Pemikiran yang banyak
kita temukan di masyarakat adalah mereka harus menyekolahkan anaknya hingga
universitas kemudian setelah lulus mencari dan mendapatkan pekerjaan yang baik,
menikah dan membeli rumah. Mereka menginginkan hidup yang aman, bukan hidup
yang nyaman. Mereka hidup dalam kecukupan bukan keberlimpahan. Sehingga rasa
takut lebih mendorong mereka untuk bekerja daripada panggilan hati untuk
bekerja. Tidak ada passion, tidak ada rasa cinta pada pekerjaan. Fokus mereka
adalah merasa aman, aman dari tagihan, cicilan KPR, Cicilan mobil, menutupi
tagihan listrik, air dan uang sekolah anak. Tidak ada perencanaan pensiun dan
hari tua, tidak ada rencana libur atau rekreasi, tidak berfikir tentang jaminan
hidup masa depan, kalaupun ada itu adalah yang mereka terima dari program
perusahaan tempat mereka bekerja. Bahkan yang mengkhawatirkan tidak ada
pengeluaran untuk pengembangan diri padahal ilmu pengetahuan dan teknologi
berubah begitu cepat, apabila tidak ada ilmu baru yang diserap, mereka bisa
ditelan jaman. Lihatlah fakta dalam universitas kehidupan atau dunia nyata tak
selalu sejalan dengan harapan. Dunia ini tidak berjalan statis, ia berjalan
dinamis. Suasana dapat berubah dengan cepat dan penuh ketidakpastian. Keadaan
politik negara yang kacau, krisis ekonomi, PHK besar-besaran itu adalah hal
yang harus disikapi dan dihadapi oleh mental dan kecerdasan finansial, karena
kalau tidak akan menjadi beban pemikiran yang berat, frustasi ekonomi. Sebagian
orang juga merasa bangga dan nyaman bekerja sebagai pegawai negeri sipil,
meskipun gajinya sebatas cukup, mereka tetap senang karena mendapat beberapa
tunjangan dari pemerintah. Terkadang tunjangan menjadi hal yang penting
daripada pekerjaan mereka sendiri. Apabila kita menyaksikan para lulusan
perguruan tinggi setelah wisuda, mereka lebih sibuk membuat resume atau
curiculum vitae yang mengesankan daripada membuat rancangan bisnis yang bisa
membuat lapangan kerja baru. Mereka menganggap kelulusan adalah proses akhir,
padahal sebenarnya adalah awal mula untuk belajar. Inilah pola pikir yang ada
disekitar kita, pola pikir yang terbentuk dari rumah dan dari sekolah yang
menghabiskan waktu belasan tahun, waktu yang hampir separuh usia hidup. Inilah
pola pikir yang membedakan orang miskin dan orang kaya dimana orang miskin
bekerja mencari uang, sementara orang kaya menjadikan uang bekerja untuk
mereka.
Orang miskin bekerja keras mencari uang, mereka bahkan lembur,
mengorbankan liburan, anak dan keluarganya dirumah. Ini adalah cermin jiwa miskin,
lemah, penakut, dapat dibeli dan bahkan tamak. Mengapa disebut penakut? Ya,
karena sebagian besar dari mereka takut tak mendapat gaji, atau gajinya
dipotong bila tak mengikuti aturan. Lalu mengapa mereka disebut tamak? Ya,
karena mereka bekerja dan berharap bisa membeli ini itu, barang-barang
konsumtif yang kelak menjadi rongsokan. Mereka berfikir bahwa dengan membeli
barang yang menyenangkan hati, mereka akan bahagia. Mereka berfikir dapat
membeli kesenangan dan kebahagiaan dengan uang, padahal kesenangan dan
kebahagiaan tidak selalu harus dibeli. Mereka jarang berfikir dan bertanya pada
diri sendiri “ Apakah dengan bekerja lebih keras akan menjadi solusi masalah
keuangan? Pekerjaan hanyalah solusi jangka pendek untuk masalah jangka panjang
(masalah financial). Berbeda dengan orang kaya, orang kaya menganggap uang
adalah ilusi, uang adalah ide, itulah sebabnya orang kaya dapat melihat apa
yang tidak dilihat oleh orang lain. Orang kaya terus berimajinasi dan
menciptakan peluang-peluang bisnis yang produktif bahkan ketika mereka tidak
hadir secara fisik, bisnis mereka tetap berjalan dan menghasilkan uang. Dan
yang terpenting orang kaya terbebas dari rasa takut dan tamak. Mereka lebih
mengedepankan proses berfikir menghasilkan uang daripada mengikuti emosi mereka
terhadap uang.



0 comments:
Post a Comment